TUGAS
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
“Takdir, Ikhtiar, Doa dan Tawakkal”
Oleh :
1. Afifah Eka Nur’aini (04)
2. Ahmad Didik Setyadi (05)
3. Aldila Devita Damayani (08)
4. Arum Arfianto Tri W (19)
5. Astrid Rahayu Wulandar i (21)
-XII MIPA 1-
SMA NEGERI 1 GEMOLONG
TAHUN PELAJARAN 2016/2017
A.
TAKDIR
Takdir adalah ketentuan Allah yang ditetapkan sejak
zaman azali (dahulu). Dalam bahasa Indonesia takdir disebut nasib. Dalam bahasa
Arab takdir disebut dalam dua kata yaitu qadha dan qadar. Kedua kata ini
bermakna sama (sinonim) tapi ada juga yang memberi makna berbeda. Menurut
ulama, takdir ada yang bisa berubah ada yang tidak bisa berubah.
Meskipun segala sesuatu yang terjadi di jagat raya ini sudah ditentukan
oleh Allah sejak zaman azali, tetapi pemberlakuan takdir Allah tersebut ada
juga yang mengikutsertakan peran makhluk-Nya. Karena itulah, takdir dibagi
menjadi dua, yaitu takdir mubram dan takdir mu’allaq :
1. Takdir Mubram
Dalam bahasa Arab, mubram artinya sesuatu yang sudah pasti, tidak dapat
dielakkan. Jadi, takdir mubram merupakan ketentuan mutlak dari Allah SWT yang
pasti berlaku atas setiap diri manusia, tanpa bisa dielakkan atau di
tawar-tawar lagi, dan tanpa ada campur tangan atau rekayasa dari manusia.
Contoh takdir mubram
antara lain :
o Waktu ajal seseorang tiba
o Usia seseorang
o Jenis kelamin seseorang
o Warna darah yang merah
o Bumi mengelilingi matahari
o Bulan mengelilingi bumi
Jika Allah sudah menetapkan bahwa seseorang akan mati pada suatu hari, di
suatu tempat, pada jam sekian, maka orang tersebut pasti akan mati pada saat
dan tempat yang sudah ditentukan itu. Ia tidak akan bisa lari atau bersembunyi
dari malaikat Izrail, meskipun ia berada di dalam sebuah tembok benteng yang
sangat kokoh. Allah SWT. berfirman :
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ
الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ ۗ وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ
يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا
هَٰذِهِ مِنْ عِنْدِكَ ۚ قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ فَمَالِ هَٰؤُلَاءِ
الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا
Artinya : “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu,
kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka
memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah",
dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini
(datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya
(datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik)
hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?” (QS. an-Nisa : 78)
2. Takdir Mu’allaq
Dalam Bahasa Arab, mu’allaq artinya sesuatu yang digantungkan. Jadi, takdir
mu’allaq berarti ketentuan Allah SWT yang mengikutsertakan peran manusia
melalui usaha atau ikhtiarnya. Dan hasilnya aakhirnya tentu saja menurut
kehendak dan ijin dari Allah SWT. Allah SWT. berfirman :
إِنَّ اللَّـهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
Artinya : “…Sesungguhnya
Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang
ada pada diri mereka sendiri…” (QS. ar-Ra’d : 11)
Beberapa contoh takdir mu’allaq antara lain adalah kekayaan, kepandaian,
dan kesehatan. Untuk menjadi pandai, kaya, atau sehat, seseorang tidak boleh
hanya duduk berpangku tangan menunggu datangnya takdir tapi ia harus mengambil
peran dan berusaha. Untuk menjadi pandai kita harus belajar; untuk menjadi kaya
kita harus bekerja keras dan hidup hemat; dan untuk menjadi sehat kita harus
menjaga kebersihan. Tidak mungkin kita menjadi pandai kalau kita malas belajar
atau suka membolos. Demikian juga kalau kita ingin kaya, tetapi malas bekerja
dan suka hidup boros; atau kita ingin sehat, tetapi kita tidak menjaga
kebersihan lingkungan, maka apa yang kita inginkan itu tak mungkin terwujud.
B.
IKHTIAR
Ikhtiar adalah berusaha melakukan segala daya dan
upaya untuk mencapai sesuatu sesuai dengan yang dikehendaki. Menurut bahasa
Arab, ikhtiar berarti 'memilih'. Dua pengertian yang berbeda itu tetap
mempunyai hubungan yang erat dan merupakan mata rantai yang tidak dapat
dipisahkan. Sebagai contoh, setiap orang mempunyai kebebasan memilih untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Ada yang mencari nafkah dengan berdagang, bertani,
menjadi karyawan, wirausaha, dan lain sebagainya.
وَقُلِ
اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ
وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا
كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
"Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang
mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah)
Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada
kamu apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S. At-Taubah 9:105)
“…
Dalam berikhtiar, manusia tidak
perlu memikirkan tentang takdir yang akan berlaku pada dirinya. Sebab setiap
orang tidak mungkin akan mengetahui nasibnya di masa yang akan datang. Yang
terpenting bagi seorang manusia yaitu berikhtiar dengan sekuat tenaga, tidak
boleh berpangku tangan, atau menunggu takdir yang baik. Allah swt telah
berfirman bahwa nasib suatu kaum/umat akan berubah apabila umat/kaum itu sendiri
yang merubahnya. Dan berikut ini ayatnya :
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا
بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ
وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu
kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan
apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang
dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Q.S. Ar-Ra’du 13: 11)
C. DOA
Di
samping berusaha dengan segala daya dan kekuatan fisik, orang-orang beriman
hendaknya juga berikhtiar secara batin yaitu dengan jalan berdoa dan memohon
kepada Allah Tuhan Yang Maha Menentukan Qadha dan Qadar bagi semua makhluknya.
Dipandang dari segi ini, maka berdoa dapat menggerakkan ikhtiar manusia secara
fisik. Apalagi Allah swt telah menjanjikan bahwa siapa di antara
hamba-hamba-Nya yang berdoa dengan yakin dan ikhlas pasti akan dikabulkan-Nya.
Dalam Al-Quran surat Al-Mukmin ayat 60 Allah swt berfirman :
وَقَالَ رَبُّكُمُ
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي
سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku,
niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan
diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”
وَإِذَا
سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا
دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (al-Baqarah 2:186).
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (al-Baqarah 2:186).
Waktu yang Bermustajab untuk Berdoa
:
1.
Ketika sahur atau sepertiga malam terakhir
Allah Ta’ala mencintai hamba-Nya yang
berdoa disepertiga malam yang terakhir. وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُون
“Ketika waktu sahur (akhir-akhir malam), mereka
berdoa memohon ampunan” (QS. Adz Dzariyat: 18)
Sepertiga malam yang paling akhir adalah waktu
yang penuh berkah, sebab pada saat itu Rabb kita Subhanahu Wa Ta’ala turun ke langit
dunia dan mengabulkan setiap doa hamba-Nya yang berdoa ketika itu. Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam .
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ
وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ
اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ
يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
“Rabb
kita -Tabaraka wa Ta’ala- turun setiap malam ke langit dunia ketika sudah
tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Dia berfirman, “Siapa yang berdoa
kepada-Ku maka Aku akan mengabulkannya, siapa yang meminta kepada-Ku maka Aku
akan memberinya, dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku maka Aku akan
mengampuninya.” (HR. Al-Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758)
2.
Ketika berbuka puasa
Waktu berbuka puasa pun merupakan waktu yang
penuh keberkahan, karena diwaktu ini manusia merasakan salah satu kebahagiaan
ibadah puasa, yaitu diperbolehkannya makan dan minum setelah seharian
menahannya, sebagaimana hadits:
للصائم فرحتان : فرحة عند فطره و فرحة عند لقاء ربه
“Orang yang berpuasa memiliki 2 kebahagiaan:
kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-Nya
kelak” (HR. Muslim, no.1151)
Keberkahan lain di waktu berbuka puasa adalah
dikabulkannya doa orang yang telah berpuasa, sebagaimana sabda Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam:
ثلاث لا ترد دعوتهم الصائم حتى يفطر والإمام العادل و
المظلوم
‘”Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang
yang berpuasa ketika berbuka, doanya pemimpin yang adil dan doanya orang yang
terzhalimi” (HR. Tirmidzi no.2528, Ibnu Majah no.1752, Ibnu
Hibban no.2405, dishahihkan Al Albani di Shahih At Tirmidzi)
3.
Ketika sedang Bersujud
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ
سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
“Keadaan dimana seorang hamba
menjadi paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika dia dalam keadaan sujud,
karenanya perbanyaklah doa (ketika sujud).” (HR. Muslim: 1/350)
4.
Ketika adzan berkumandang
ثنتان لا
تردان أو قلما تردان الدعاء عند النداء وعند البأس حين يلحم بعضهم بعضا
“Doa tidak tertolak pada dua waktu, atau minimal
kecil kemungkinan tertolaknya. Yaitu ketika adzan berkumandang dan saat perang
berkecamuk, ketika kedua kubu saling menyerang” (HR. Abu Daud,
2540, Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Nata-ijul Afkar, 1/369, berkata:
“Hasan Shahih”)
5.
Di antara adzan dan iqamah
الدعاء لا
يرد بين الأذان والإقامة
“Doa di antara adzan dan iqamah tidak tertolak” (HR. Tirmidzi, 212, ia berkata: “Hasan Shahih”)
6.
Di hari
Jum’at
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكر يوم
الجمعة ، فقال : فيه ساعة ، لا يوافقها عبد مسلم ، وهو قائم يصلي ، يسأل الله
تعالى شيئا ، إلا أعطاه إياه . وأشار بيده يقللها
Rasulullah
Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda,
“Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam menyebutkan tentang hari Jumat kemudian
beliau bersabda: ‘Di dalamnya terdapat waktu. Jika seorang muslim berdoa ketika
itu, pasti diberikan apa yang ia minta’. Lalu beliau mengisyaratkan dengan
tangannya tentang sebentarnya waktu tersebut” (HR. Bukhari 935,
Muslim 852 dari sahabat Abu Hurairah Radhiallahu’anhu)
D. TAWAKAL
Tawakal
diartikan dengan sikap pasrah dan menyerahkan segala urusannya kepada Allah.
Dalam bahasa Arab, tawakal berarti `mewakilkan', yaitu mewakilkan kepada Allah
untuk menentukan berhasil atau tidaknya suatu urusan. Ajaran tawakal ini
menanamkan kesan bahwa manusia hanya memiliki hak dan berusaha, sedangkan
ketentuan terakhir tetap di tangan Allah swt. sehingga apabila usahanya
berhasil, is tidak bersikap lupa diri dan apabila mengalami kegagalan, is tidak
akan merasa putus asa. Pengertian seperti ini merupakan ajaran tawakal yang
paling tepat. Artinya: “Maka apa bila kamu telah membulatkan tekad, maka
bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bertawakal kepada-Nya." (QS Ali Imran: 159).
Sikap tawakal harus di terapkan dalam kehidupan
sehari-hari setiap muslim. Sikap tawakal dalam kehidupan sehari-hari dicapai
dengan motivasi sebagai berikut.
- Yakin bahwa allah sebagai penguasa
alam semesta.
- Tahu keutamaan dari sikap tawakal.
- Menyadari bahwa manusia banyak
kekurangan ( yang sempurna hanyalah Allah ).
Dalam bertawakal hendaknya kita serahkan semuanya
kepada allah SWT, hal ini diperintahkan Allah dalam surat al-maidah ayat 23
sebagai berikut :
…. وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ *
سورة المائدة 23
Artinya : …. “ dan hanya kepada allah hendaknya kamu
bertawakal jika kamu benar-benar orang yang beriman” (al-maidah ayat 23)
Dari ayat di atas maka dapat di fahami bahwa tawakal
kepada allah swt hukukmnya wajib, karena semua manusia sebenarnya bertawakal. Cuma
tidak seluruhya bertawakal kepada Allah. Ada yang bertawakal kepada benda
keramat, manusia, dukun, jin dan sebagainya, hal ini yang harus di luruskan.
وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ
كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا
تَعْمَلُونَ * سورة هود 123
Artinya : “dan kepunyaan allah-lah apa yang ghaib di
langit dan di bumi dan kepada-Nyalah di kembalikan urusan-urusan semuanya, maka
sembahlah Dia, dan bertawakalah kepadaNya . dan sekali-sekali tuhanmu tidak lalai
dari apa yang kamu kerjakan” (QS Hud :
123)
Bertawakal bukan berarti bahwa seseorang hanya diam dan bertopang
dagu tanpa bekerja. Orang yang sudah menentukan pilihan dan cita-citanya tanpa
mau bekerja, hanya akan menjadi lamunan atau khayalan semata karena hal itu
tidak akan pernah terlaksana. Firman Allah swt.
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
Artinya: “Dan bahwasanya seorang manusia tidak akan memperoleh
selain apa yang telah diusahakannya." (QS An Najm: 39)
Takdir, ikhtiar, do’a dan tawakal adalah empat hal yang sulit untuk
dipisah-pisahkan. Dengan kemahakuasaan-Nya, Allah menciptakan undang-undang,
peraturan, dan hukum yang tidak dapat diubah oleh siapa pun. Sementara itu,
manusia diberi kebebasan untuk memilih dan diberi hak untuk bekerja dan
berusaha demi mewujudkan pilihannya. Akan tetapi, setiap manusia tidak dapat
dan tidak dibenarkan memaksakan kehendak kepada Allah untuk mewujudkan
keinginannya.
Oleh karena itu, sebagai penghayatan terhadap keyakinan akan takdir, ikhtiar, doa dan tawakal, maka kewajiban kita memilih segala hal yang baik. Adapun ukuran mengenai baik dan buruknya adalah norma yang tercantum pada Al Quran dan hadits, senantiasa tekun, bersungguh-sungguh dalam bekerja sesuai kemampuan, bertawakal, berdoa, tidak sombong atau lupa diri dan bersyukur apabila berhasil serta tidak berputus asa apabila belum berhasil.
Oleh karena itu, sebagai penghayatan terhadap keyakinan akan takdir, ikhtiar, doa dan tawakal, maka kewajiban kita memilih segala hal yang baik. Adapun ukuran mengenai baik dan buruknya adalah norma yang tercantum pada Al Quran dan hadits, senantiasa tekun, bersungguh-sungguh dalam bekerja sesuai kemampuan, bertawakal, berdoa, tidak sombong atau lupa diri dan bersyukur apabila berhasil serta tidak berputus asa apabila belum berhasil.
Memang semua manusia sudah ditetapkan rizkinya masing-masing, namun
rizki itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus melalui ikhtiar atau
usaha, do’a dan tawakkal. Misalkan saja, jika kita ingin pandai, haruslah kita
rajin belajar, dll. Dalam segala usaha (ikhtiar) haruslah disertai dengan do'a,
berdo'a dengan sungguh-sungguh kepada Allah mengharap apa yang diinginkan. Kalau
sudah berikhtiar, berdoa dan bertawakkal ternyata tidak membuahkan hasil
seperti yang kita harapkan, yakinlah bahwa di balik semua kegagalan pasti ada
hikmah yang lebih baik. Boleh jadi kita membenci sesuatu, namun di balik itu
ada hikmah kebaikan. Sebaliknya, boleh jadi kita menyukai sesuatu, namun di
balik itu ada keburukan. Karenanya, kita harus selalu berprasangka baik pada
Allah, bahwa Allah hanya akan memberikan yang terbaik untuk kita.

